Artikel
Kamis, 6 Desember 2007 - 13:53 WIB
MERAIH HAJI MABRUR
Oleh: Bahron Ansory

 “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh bersetubuh, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan seasungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS Al Baqarah (2): 197).

Di dalam musim haji ini ada sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang merupakan hari-hari sangat mulia sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW, “Tidak ada hari di mana amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari (Dzhulhijjah) ini.”

Lalu para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak tertandingi oleh jihad fi sabilillah sekalipun?! Beliau menjawab, “(Ya), tidak tertandingi oleh jihad fi sabilillah sekalipun, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa raga dan hartanya, lalu ia tidak kembali dengan apa pun (yakni mati syahid).” HR Bukhari.

Setiap jama’ah haji pasti berobsesi menjadi haji mabrur. Sebab, haji mabrur seperti sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, tidak ada balasan lain untuknya kecuali surga. Tetapi, tidak semua orang yang pergi haji ke tanah suci meraih predikat haji mabrur. Hal ini sebagaimana disinyalir oleh Umar bin Khaththab RA, “Orang-orang yang rekreasi (turis) itu banyak, sementara jama’ah haji (sejati) sedikit”.

Masih banyak jama’ah haji yang beranggapan kepergiannya ke tanah suci sebagai rekreasi, bukan perjalanan suci. Masih banyak dari mereka yang tampilannya bak wisatawan, bukan tamu Allah (Wafdu’r Rahman). Jika hal ini yang terjadi alih-alih meraih haji mabrur, justru semua biaya dan tenaga yang ia kerahkan menjadi sia-sia.

Karena itu, Allah SWT dalam ayat di atas memberikan tips untuk meraih haji mabrur. Yaitu dengan memerintahkan orang-orang mukmin yang akan menunaikan ibadah haji untuk mempersiapkan bekal yang memadai. “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”, bekal itu meliputi: Az Zaad Al Maaddi (bekal materi) dan Az Zaad Ar Ruhi (bekal spiritual).

Termasuk dalam bekal materi adalah biaya selama diperjalanan, biaya untuk keluarga yang ditinggalkan, kesehatan jasmani dan penguasan materi manasik haji. Sementara bekal ruhiyah adalah ikhlas, yaitu berhaji semata-mata karena Allah.

SIMBOL-SIMBOL HAJI

Haji mabrur, menurut M. Quraish Shihab, ditandai dengan berbekasnya makna simbol-simbol amalan yang dilaksanakan di tanah suci, sehingga makna-makna tersebut terwujud dalam bentuk sikap dan tingkah laku sehari-hari.

"Pakaian biasa" ditanggalkan dan "pakaian ihram" dikenakan. Menanggalkan pakaian biasa, kata Quraish Shihab, berarti menanggalkan segala macam perbedaan dan menghapus keangkuhan yang ditimbulkan oleh status sosial. Mengenakan pakaian ihram melambangkan persamaan derajat kemanusiaan serta menimbulkan pengaruh psikologis bahwa yang seperti itulah dan dalam keadaan demikianlah seseorang menghadap Tuhan pada saat kematiannya. Bukankah ibadah haji adalah kehadiran memenuhi panggilan Allah?

Pertanyaannya, apakah sekembalinya dari tanah suci, masih ada keangkuhan, masih adanya pandangan perbedaan derajat kemanusiaan, masih menindas orang lain? Bila masih ada, maka sesungguhnya ia masih mengenakan pakaian biasa, belum menanggalkannya.

Kabah merupakan lambang dari wujud dan Keesaan Allah. Bertawaf di sekelilingnya melambangkan aktivitas manusia yang tidak pernah terlepas dari-Nya. Kabah bagaikan matahari yang menjadi pusat tata surya dan dikelilingi oleh planet-planetnya. Ini menandakan segala aktivitas manusia harus terikat oleh daya tarik Tuhan Yang Maha Esa (ikhlas guna mengapai ridho Allah).

Sai adalah lambang dari usaha mencari kehidupan duniawi. Kita tahu, bukankah Hajar (ibu Ismail a.s.) mondar-mandir di sana mencari air untuk puteranya? Ini menandakan upaya sungguh-sungguh dalam beramal, istiqomah dan tawakal dalam upaya mengapai kebaikan Ilahi.

Arafah berarti pengenalan. Yakni dimaksudkan agar para jemaah haji diharapkan mampu mengenal jati dirinya, menyadari kesalahan dan kekeliruannya, serta bertekad untuk tidak mengulanginya. Dan yang lebih penting lagi adalah menyadari akan kebesaran dan keagungan Sang Penciptanya.

Simbol-simbol dari ritual haji itu semua tidak semata dilakukan pada saat berhaji saja, lebih dari itu, aplikasinya adalah bagaimana sikap kita sepulang dari tanah suci. Apakah ada perbaikan sikap atau tidak?! Jika tidak, maka hajinya masih perlu di pertanyakan.

MAKNA HAJI            

Hakikat haji adalah perjalanan ruhani seorang hamba menuju Allah. Ia bermakna keharusan bagi setiap manusia yang ingin kembali kepada Tuhan dalam keadaan suci hingga berakhir dengan perjumpaan dengan Tuhan.

MENGAPA harus berhaji? Inilah pertanyaan, yang barangkali jawabannya sama sulit ketika ditanya apa pentingnya haji. Tak lalu tidak ada jawaban. “Duduk perkara” tentang haji, setidaknya bisa dijelaskan lewat beberapa pendekatan, seperti bahasa, syariat, dan hakikat.

Berasal dari kata hajja, yahujju, dan hajjan, secara etimologi sinonim haji adalah bergegas menuju Allah. Ia adalah al qasdu, yang berarti menuju atau pergi ke suatu tempat. Titik awal dari jalan ilahiah untuk kembali kepada Allah, Zat paling suci dan satu-satunya. Manusia tak akan sampai pada Zat yang mahasuci, kalau baju hatinya masih dipenuhi sampah syirik, jiwanya dipenuhi kotoran hawa nafsu. Haji, karena itu proses penyucian diri sebelum menuju Allah.

Secara filosofis haji adalah evolusi manusia mencari hakikat kemanusiaan. Sebuah perjalanan “pulang kampung” dari seorang hamba menuju “rumah” keabadian dan keesaan setelah berkelana di “rumah” duniawi yang penuh tipu daya dan “rumah” hawa nafsu yang gelap gulita.

Menurut syara' haji adalah pergi menuju Baitullah, rumah Allah  untuk menunaikan rangkaian ritual sesuai ketentuan syariat yang  ditetapkan. Haji atau nusuk karena itu wajib dilaksanakan setiap muslim (yang mampu) sesuai rukun Islam. Dalam hadis  dijelaskan, “Islam didirikan atas lima hal; Penyaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah, melaksanakan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah dan shaum Ramadhan." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).

Secara syariat, mula haji dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. pada sekitar 2000 tahun SM.  Ketika itu, Ibrahim dan Ismail as. putranya, diperintahkan membangun Ka'bah, yang sekarang menjadi bangunan sentral utama ibadah haji dan kiblat umat Islam seluruh dunia. Perjalanan Siti Hajar yang pulang-pergi dari Shafa ke Marwah mencari air, akhirnya menjadi salah satu rukun haji yang disebut sai. Sedangkan bekas injakan kaki Ismail yang mengeluarkan air menjadi sumber mata air yang memiliki kandungan mineral yang tinggi disebut sumur zam zam.

Pengorbanan Ismail yang ikhlas menaati perintah Allah dengan bersedia disembelih oleh Ibrahim, sang bapak, akhirnya menjadi syariat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam—dengan sejumlah penyempurnaan tentunya. Apa yang dilakukan Ibrahim dan keluarganya lalu menjadi ibadah haji seperti yang kita jumpai sekarang pada tiap 10 Dzulhijjah, sekalipun hukumnya sunah muakad.

Haji yang dilakukan Rasulullah, kali pertama terjadi, setelah kesepakatan damai antara kaum muslimin dengan kafir Quraisy yang tertuang dalam perjanjian Hudaibiyah, setelah kaum muslimin meninggalkan Mekkah setelah tujuh tahun. Itu terjadi pada 629 Masehi.

Dalam perjanjian itu, kaum muslimin diperbolehkan pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ritual di sekitar Ka'bah dengan mendapatkan jaminan keamanan. Karena sudah rindu melihat Ka’bah, Rasulullah beserta kaum muslimin dari muhajirin dan anshar pergi untuk melaksanakan ritual bersama. Karena ritual tersebut dilakukan tidak pada bulan haji maka disebut umrah.

Peristiwa haji kedua terjadi setelah selesai perang Tabuk (sekitar 631). Itulah perang dan ekspedisi terakhir di zaman Nabi setelah mendapatkan kemenangan di semua wilayah.  Nabi ketika itu menyuruh Abu Bakar ra. memimpin perjalanan haji bersama  kaum muslimin, kemudian Ali  Karamallahu Wajhah menyusul untuk membacakan pesan Nabi dalam khotbah haji di Arafah.

Haji terakhir zaman Nabi dikenal sebagai haji wadaa'. Terjadi  pada 632, haji ini diikuti 114 ribu kaum muslimin dan menjadi haji perpisahan dari Nabi karena pada tahun itulah Nabi meninggal dunia.

Dengan memahami makna dan hakikat haji, mudah-mudahan kita memperoleh haji mabrur secara subtantif.

 


 
Copyright © 2003-2007 Development Team All Rights Reserved
Pondok Pesantren Shuffah (Hizbullah) Cileungsi, Bogor
E-mail : infokhilafah@yahoo.com